PULANG : Tere Liye

 

Sebut saja dia Bujang atau “Si Babi Hutan” tidak ada yang tau nama sebenarnya, dan jika kamu membisikkan namanya maka gemetarlah mereka, dan bahkan seorang presidenpun takluk didepanya.

Tere Liye sukses membuat si Bujang sebagai pemeran utama yang mengagumkan, bikin ane jatuh cinta dari pertama kali membacanya. Dalam bayangan ane sosok si Bujang ini mirip dengan sosok Ji Chang Wook dalam drama korea (Belum bisa move on dari Drama the K2 hehehe :D) yang cerdas, berwawasan luas, jago berkelahi, menembak, kuat & tak terkalahkan.

Remaja 15 tahun dari hutan barisan Sumatera yang pertama kali datang ke kota tanpa menggunakan alas kaki, dan penuh luka. Siapa sangka dia punya segudang kelebihan yang mengagumkan, bahkan bisa menyelamatkan Tauke besar pemimpin gangster top di Ibu Kota dan penguasa shadow economy yang disegani seluruh penjuru negeri ini hingga manacanegara.

Di awal bab belum apa-apa cerita uda panas, menegangkan dan bikin penasaran.
Bayangkan saja buku setebal ini mampu ane lahap dalam 5 hari saja, biasanya mah bisa berbulan-bulan karena tidak sempat. Demi buku ini ane rela begadang, sampai gak bisa tidur gara-gara kepikiran si Bujang… Oh bang Bujang…

Bujang digambarkan sebagai sosok yang tidak punya rasa takut sama sekali, ia gagah berani menghadapi apapun.
Sampai pada akhirnya satu persatu pondasi kekuatanya terkelupas, dan dia jatuh pada titik yang membawa dia pulang kembali kepada Tuhan.

Tokoh-tokoh yang tak kalah penting dalam novel ini adalah Tauke Besar adalah pemimpin keluarga tong yang menguasai Shadow Economy, Kopong si pemimpin tukang pukul, Guru Bushi mantan ninja yang mengajari Bujang menggunakan katana dan melempar shuriken, Sangola pembunuh bayaran yang mengajari si Bujang menembak, kisah cinta Mamak & Bapak si Bujang yang sangat dramatis, dan yang tak kalah penting adalah Tuanku Imam yang memberikan pencerahan kepada Bujang untuk kembali pulang kepada Tuhan.

Berikut kutipan-kutipan yang ane suka dari novel ini….

Aku hidup bukan untuk membahagiakan orang lain, apalagi menghabiskan waktu untuk mendengar komentar mereka.

Berjanjilah agar menjaga perutmu dari semua makan yang haram & kotor, agar besok lusa, jika hitam seluruh hidupmu, hitam seluruh hatimu, kau tetap punya satu titik yang putih, dan semoga itu berguna. Memanggilmu pulang.

Bahwa kesetiaan terbaik adalah pada prinsip-prinsip hidup, bukan pada yang lain.

Bersabarlah, maka gunung-gunung akan luruh dengan sendirinya. Lautan akan kering. Biarkan waktu menghabisi semuanya.

I against my brother, my brother and I against my cousins, then my cousins and I against strangers.
– Pepatah suku Bedouin.

Seluruh masa lalu, hari ini, dan masa depan akan selalu berkelindan, kait mengait. Esok lusa kau akan lebih memahaminya.

Kau tahu, hidup ini sebenarnya perjalanan panjang, yang setiap harinya disaksikan oleh matahari.

Peluklah semuanya, peluk erat-erat. Dekap seluruhkebencian itu. Hanya itu cara agar hatimu damai.

Ketauhilah, hidup ini tidak pernah tentang mengalahkan siapapun. Hidup ini hanya tentang kedamaian dalam hatimu. Saat kau mampu berdamai, maka saat itulah kau telah memenangkan seluruh pertempuran.

Sejatinya, dalam hidup ini kita tidak pernah berusaha mengalahkan orang lain, dan itu sama sekali tidak perlu. Kita cukup mengalahkan diri sendiri.

Sungguh, sejauh apapun kehidupan menyesatkan, segelap apapun hitamnya jalan yang kutempuh, Tuhan selalu memanggil kami untuk pulang.