Batur Adventure

Pernah gak terpikir….  dengan hidup kita yang monoton, ngebosenin, rutinitas yang gitu-gituuuu ajaa….. rasanya jenuh bangeet…. berangkat kerja, melototin monitor, diomelin si bos, di kasih kerjaan yang numpuk, dan dikejar-kejar deadline…. and wal hasil pulang dengan muka kusut kayak gulungan kabel, lecek kayak kertas yang di bejek…..

Daaaan…. gak sampek situ ajaa… nyampek kos pun kebosenan tetep melanda, bukan karena teman atau pasangan yang gak asyeek…. tapi karena hal-hal atau aktivitas tersebut sudah sering kita lakukan, misalnya hang out, makan bareng, nonton, dan jalan-jalan ke mall.

“Let’s Try Something New” gitu sih kata orang-orang…. kalo uda bosen marilah kita mencoba sesuatu yang baru…. eeettts… bukan pacar baru yaa tapi pengalaman baru heheheh 😀

Tepatnya tanggal (13 – 10 – 13) kita memutuskan untuk menapakkan kaki di puncak tertinggi ketiga di Bali yaitu Gunung Batur. Untuk pemanasan Ok lah…. karena puncak tertinggi pertama adalah Gunung Agung dan yang kedua Gunung Batukaru masih terlalu ekstrim. Sudah lama juga ane vakum mendaki, terakhir pas masih SMA masih ABG… tenaga masih kuat-kuatnya… semangat masih membara-membaranya….. nah kalo sekarang???? (berasa uda tua banget yeeee) 😀

Gunung yang terletak di Kecamatan Kintamani Kabupaten Bangli ini memiliki ketinggian 1.717 meter dari permukaan laut dan masih aktif, sebelumnya kita telah mensurvey dan mempersiapkannya. Yang pasti kita tidak sendiri…. si doi mengajak 2 orang teman yang sudah pernah mendaki kesana sebelumnya ane pun juga mengajak 2 orang temen lain yang sama-sama masih amatir. Karena perjalanan dan pendakian cukup banyak resiko dan medan pendakian yang cukup ekstrim.

Sekitar pukul 00.00 tengah malam kita sudah berkumpul untuk mempersiapkan perjalanan. Fisik yang prima, obat-obatan, makanan secukupnya, jaket yang cukup menghangatkan, kompor parafin, panci kecil,  dan yang paling utama adalah senter, karena perjalanan dilakukan dini hari, dan tentunya di sana tidak ada penerangan hanya mengandalkan sinar rembulan dan bintang dari alam.

Perjalanan kita mulai pada pukul 00.10 dengan mengendarai sepeda motor berbarengan dari Denpasar menuju Kintamani, saat itu langit terlihat sangat bersahabat, jalanan lenggang, angin malam yang dingin menghujam, dan lampu kota yang temaram. Ketika mulai memasukin kawasan Kintamani, anjing-anjing di pinggir jalan seolah menyapa kami… “heeeey selamat datang di kota kami….” dengan suara gonggongannya yang bikin ngeri…. udara dingin semakin berasa menusuk persendian, ane semakin meringkuk di balik punggung si doi, dan kurasakan gigiku yang gemerutuk menahan dinginnya malam. Jalanan semakin menanjak, ku tengok kiri dan kanan seperti tak ada kehidupan….. sunyi…. sepi…. aku benci…. (Gubrak….!!!! *ada apa dalam cinta bangeeet* #GagalFokus 😀 ) ane malah suka dengan suasana seperti ini 🙂 karena dari kesunyianlah terasa dekat kepada-Nya sang pencipta :). Gunung Batur tampak sangat kokoh di depan kita, mampukah kita sampai di puncaknya??? Wallahu A’laam…. hanya langkah rendah hati kitalah yang mampu membawa kita kesana.

Dan waktu menunjukkan pukul 01.30 sampailah pada medan yang kami tuju, GUNUNG BATUR “We Are Coming…..!!!!!! sambutlah kami dengan ramah, tuntunlah kami ke arah yang benar menuju puncak terindahmu….!!!!” begitulah teriakan hati kami, karena gak mungkin kita berteriak seperti itu di tengah malam begini.

Sebelum memulai pendakian, tak lupa kita panjatkan doa agar perjalanan selalu dilindungi dan tak kekurangan suatu hal apapun hingga kembali, seperti ketika ESQ yang sakral, sempat ane hampir meneteskan air mata karena pendakian ini tidak mudah dan kita harus selalu bersama-sama agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Sekitar pukul 02.00 kami memulai pendakian, yang ada dalam diri kami saat itu adalah tekad dan semangat yang kuat untuk bersama-sama berada di puncak. Ilalang panjang yang tumbuh di samping jalan sepetak  menemani perjalanan kami, bintang yang berbinar memancarkan sinar terangnya tiada henti….. sungguh takjub akan pesona alam di malam hari yang luaarrrr biasaa…. inilah alam yang mengajarkan betapa rendahnya kita di hadapan sang Pencipta.

Bintang“Seperti inilah gambaranya”

Medan semakin menanjak, kabut mulai turun, dingin mulai menyerang, sapuan angin malam membelai wajah kami, jalanan berpasir dan berbatu semakin berat kami lalui, nafas mulai tersenggal-senggal, dan kamipun beberapa kali memutuskan untuk berisitirahat. Tampak kerlap kerlip lampu kota dari atas gunung seperti kerlipan bintang. Nafas kami uda senin kamis….. air putih seteguk membasahi rongga-rongga kerongkongan kami yang mulai kering, medan semakin terjal dan menantang…. puncak Gunung Batur seolah tak tampak…. mungkinkah kita salah jalur???? sempat dilema karena ada 2 jalur dan takut tersesat… karena jalanan benar-benar gelap dan tak ada orang lain selain kami ber-enam. Tampak lampu senter dari bawah kami, dan suara orang lain sayup-sayup terdengar. Aaaaaahhh……….. bersyukurlah ada orang lain yang semoga dapat menunjukkan jalan yang benar menuju ke puncak.

Setelah ngobrol singkat sembari terus melanjutkan perjalanan, ternyata mereka adalah pedagang yang berjualan di warung di puncak gunung batur. Astaghfirullah….. aku takjub pada kedua orang ini, setiap dini hari mereka menempuh perjalanan ini demi sesuap nasi…. mempertaruhkan nyawa demi membesarkan anak-anaknya…. tapi tak terlihat keluh kesah di wajah mereka….. kita yang baru separuh perjalanan aja uda merasa berat dan mengeluh…. kita yang setiap hari bekerja di depan komputer dan bermain-main aja masih sering mengeluh… sedangkan mereka???? Subhanallah…. Jam segini biasanya kita masih tertidur lelap… bermimpi indah, sedangkan mereka???

Puncak sudah mulai terlihat, ayooook…. semangat….. kurang sedikit lagi….!!!!!! “Teriak seorang leader yang memimpin perjalanan kami”. Masih jam 4.30, tapi dingin luar biasa menusuk tulang, badan bergetar hebat. Tak lama kemudian akhirnya kami pun mencapai puncak, alhamdulillah syukur kami ucapkan di dalam hati masing2. Lalu kami beristirahat sejenak dan melihat keadaan sekililing. Pemandangan masih tampak gelap, angin berhembus semilir, kabut cukup tebal menghampiri kami…. sungguh alam menyambut kami dalam diam. Aku tak bisa berkata-kata lagi, karena ini adalah pengalaman pertamaku dan dia dalam pendakian hunting for sunrise di puncak gunung tertinggi ketiga di Bali….. Tibalah waktunya sholat subuh, kami melakukan tayamum dengan debu yang sudah basah terkena embun. Dalam sholat tak henti-hentinya mengucap syukur kepada Yang Maha Kuasa…. sungguh bersyukur kami sekarang dapat berdiri dan sujud di sini… menghadap Engkau Tuhan Pencipta semesta alam yang sangat indah :’).

Sang surya mulai menampakkan diri, memecah kesunyian dan memberi rona orange diantara gunung-gunung. Pfuuuiiiihhhhh…. seakan terhenti detak jantung ini ketika menyaksikan detik-detik munculnya sang surya. Perjalanan kami sungguh tak sia-sia…. :’)

1291896_3517421072410_184711358_o“Kepenatan perjalanan sepanjang malam terbayar dengan keindahan alam yang luar biasa…. Terimakasih semesta 🙂 “

 1525372_3849678778645_798581674_n

“Di atas bumi, tapi dekat dengan langit…. *Samudra di atas awan, pagi di atas puncak gunung batur* 1717 MDPL”

-Mt_Batur__Bali-20000000006049237-500x375

“When the sunrise coming up”

 946394_3517481593923_140621955_n_gfghk

“Top of Batur Mount”

Kopi hangat dan mie kuah nikmat menemani kami menikmati pemandangan alam

1384335_454982181282910_1646821934_n

“Don’t forget your Breakfast 😉 “

Sang surya semakin meninggi dan terik, kamipun harus segera kembali…. walau berat sebenarnya meninggalkan puncak ini, aku berjanji dalam hati akan kembali kesini suatu hari nanti :).

1601209_495909807190147_10918067_n“Perjalanan menuruni Gunung Batur”

Kami menuruni gunung ini dengan perasaan puas, haru, dan kesenangan yang luar biasa…. semoga kita selalu bisa melestarikan dan menjaga alam ciptaanmu yang sangat indah ini Tuhan O:).

“Gunung bukan sekedar onggokan kerucut besar kumpulan tanah berpasir. Laut bukan sekumpulan air dalam wadah raksasa. Hutan bukan sekedar sekumpulan tumbuhan dalam pot besar. Sungai bukan sekedar mengalirnya air untuk riasan bumi. Lebih dari itu karena sesungguhnya pada diri mereka ada diri kita” — Harley B. Sastha

Advertisements

2 thoughts on “Batur Adventure

  1. amajing setory 😀
    tomorow-tomorow kalo kesitu lagi kol mi en fren yo…
    aku pengen liat “Samudra di atas awan” 😀
    seru buanget kayanya mbak..

    »Aan Orry«

  2. ok ok nanti ask audience aja yoo dek….. wkwkwkkwkwkw :v
    klo mau liat samudra di atas awan mah gampang deeek… *sodorin baling-baling bambu* 😀
    Seeep dah nanti tak kabar2in…. wani piro???
    wkwkwkwkkwkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s