Akhir Pekan di Savana Sadengan – Alas Purwo

Kemana biasanya agan-agan menghabiskan akhir pekan?
Pantai, pegunungan, air terjun, taman, mungkin menjadi alternatif pilihan sebagian orang untuk menghabiskan akhir pekan bersama keluarga, teman atau bahkan pasangan.
Nah, jika agan ingin mencari suatu tempat yang gak kalah sejuk dan relatif murah bisa dicoba nih ke padang savana yang ada di Banyuwangi, Jawa Timur yaitu Savana Sadengan.

Well, perjalanan kali ini cukup menantang. Bukan karena Alas Purwo yang terkenal mistis, tapi karena lokasinya yang sangat tersembunyi dan pemandanganya yang waaaar biasaaah…..!!!!

Lokasi & Akses Jalan
Savana Sadengan ini terletak di Taman Nasional Alas Purwo, yaitu di Purworejo, Kalipait, Tegaldlimo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Yaitu sekitar 69,4 km dari pelabuhan Ketapang kira-kira 2 jam dengan menggunakan motor.
Kami bersama dengan teman-teman Bali Max Owners memulai perjalanan ini dalam acara SUNMORI (Sunday Morning Ride) dimulai pada jam 5 pagi dari Denpasar.
Perjalanan hari itu di dukung dengan cuaca yang cerah & jalanan yang ramai lancar, meskipun padat dan agak mengantre ketika memasuki pelabuhan Gilimanuk dan saat naik kapal.


Ketika mulai memasuki desa dan persawahan, jalanan mulai berlubang dan kondisi rusak. Kami juga melewati beberapa hutan mati dan persawahan dan perkebunan warga. Bagi yang hobi photography, jalanan hutan mati ini akan sangat instagramable karena terdapat beberapa hutan jati yang kering dan daunnya meranggas.
Bau hutan hujan tropis yang segarpun mulai tercium, dan ketika mulai memasuki palang pintu pos pengamanan di Alas Purwo dikenakan tiket masuk sekitar Rp. 15.000/orang.

Dari Pos ini, perjalanan masih berlanjut sekitar 15 menit menuju Savana Sadengan. Jalan masuknya terletak sebelum Pantai Plengkung ikuti saja petunjuk arahnya yang pastinya meninggalkan jalanan beraspal dan  harus melalui jalan yang rusak dan berbatu yang mengingatkan akses jalan menuju Savana Bekol di Baluran :)).

Hutan Mati

Palang Pos Pengamanan

Welcome to the jungle

New Zealand in Java
Savana Sadengan ini terletak tersembunyi dalam rimbunnya hutan di Taman Nasional Alas Purwo.
Sebagian orang banyak juga yang menyebut Savana ini dengan “Afrika lain di Jawa Timur”.
Yups, karena sebutan the little of Africa of Java yang paling terkenal adalah Savana Bekol di Taman Nasional Baluran.
Tapi kalau ane sendiri lebih suka menyebutnya dengan “New Zealand in Java” karena padang savana yang ada disini sangat hijau, seger banget terlihat seperti peternakan yang ada di New Zealand, yaaah walaupun belum pernah kesana sih hehe :))

Padang rumput Sadengan merupakan padang rumput semi alami karena proses terbentuknya berlangsug sebagai akibat dari kerusakan hutan yang kemudian secara alami muncul hamparan rumput yang luas.
Ada banyak binatang liar yang bisa disaksikan di sini mulai dari kumpulan banteng, rusa, kijang, babi hutan, hingga macan tutul. Ada waktu-waktu tertentu untuk melihat kawanan satwa ini, jadi perhatikan baik-baik ya.

Untuk bisa menikmati pemandangan banteng jawa yang sedang merumput maka sebaiknya berangkat pagi atau jelang sore. Karena kawanan hewan dengan tanduk berbentuk huruf U tersebut biasanya muncul pada pukul 06.00 WIB – 09.00 WIB atau pukul 15.30 WIB – 17.00WIB.
Sayangnya rombongan kita waktu itu sampai sekitar jam 13.00 WIB jadi hanya bisa melihat sapi-sapi saja :(.

Agar pengamatan satwa-satwa ini semakin leluasa, sebaiknya agan menggunakan lensa binokular untuk mendapatkan pemandangan yang lebih jelas.
Selain itu pihak pengelola juga menyediakan pos pemantauan satwa yang berupa gubuk berlantai tiga. Dari atas ketinggian, pengamatan terhadap beragam satwa yang ada di padang rumput Sadengan semakin leluasa.
Oh, ya di savana ini dilengkapi dengan pagar-pagar pembatas, tidak seperti di Baluran yang satwanya dibiarkan bebas. Jadi tetap aman deh.

Pos pantau

Untuk agan yang ingin meneliti para satwa yang ada di Sadengan, ada penginapan khusus yang disediakan dan berlokasi di belakang pos pantau. Apalagi padang rumput Sadengan juga dibagi dalam beberapa blok yang semakin memudahkan untuk akses penelitian.
Blok-blok ini terdiri dari Blok A dengan nomor 1-3 dan Blok B dengan penomoran yang sama. Masing-masing blok memiliki luas yang berbeda dan mendapat perlakuan yang berbeda dan bergantung pada masing-masing kebutuhan kawasan.

Jadi mulai sekarang gak perlu jauh-jauh ke Afrika untuk menikmati beragam satwa liar di alam yang liar pula, langsung saja gass ke Banyuwangi dan melihat mereka di Savana Sadengan.




Jangan ke Lombok nanti gak mau pulang

Tagline tersebut memang tidak asing lagi kita dengar, di sosial media dan beberapa teman yang tinggal di Lombok seringkali menyebutkan tagline tersebut. Ketika kami touring ke Lombok untuk menghadiri suatu acara juga terdengar jelas dari Walikota Lombok selama berpidato. Lombok memang lagi gencar mempromosikan pariwisatanya yang eksotis, budaya yang kental, serta view alamnya yang menakjubkan.

Dan disinilah saat-saat dramatis itu terjadi, ketika kapal yang kami tumpangi mulai sandar ke pelabuhan, melewati bukit-bukit kecil yang terlihat seperti gundukan-gundukan hijau,  disitu ane merasa… “aaah… finally Lombok…
I’m ready to explore you 🙂

Pelabuhan Lembar, Mataram

Pelabuhan Lembar, Mataram

Nah, ternyata dengan waktu 3 hari saja sudah bisa mengelilingi Lombok looh….
Di mulai dari pelabuhan Lembar, Mataram, Lombok barat, Lombok utara, Lombok timur, dan Lombok tengah.
Dan perjalanan ini sepenuhnya dengan menggunakan motor. Lelah ?, so pasti… !
Akan tetapi pengalaman yang luar biasa disertai dengan indahnya alam Lombok membuat kita benar-benar gak mau pulang !

Well, berikut adalah destinasi yang kami kunjungi ketika explore Lombok dalam 3 hari.

 

1). Pantai Senggigi


Jadi inilah lokasi yang pertama kali kami kunjungi. Sesampainya di pelabuhan lembar-Mataram, dan setelah beristirahat beberapa kali untuk sekedar makan dan mengisi BBM kami langsung menuju ke Pantai Senggigi yaitu sekitar 1 jam dari pelabuhan Lembar. Selama perjalanan menuju kesana kami melewati perkotaan, kemudian jalan raya yang berbatasan langsung dengan laut lepas… dengan jalanan yang berkelok dan suara deburan ombak serta angin laut yang sepoi-sepoi.

Pantai Sengigi terletak di kecamatan Batu Layar, Lombok Barat.
Mempunyai pasir berwarna putih dan air laut yang jernih membuat Senggigi populer sehingga di dekat Pantai Senggigi terdapat banyak resort, hotel, restoran, toko suvenir, pusat hiburan, dan berbagai toko yang menyediakan kebutuhan para wisatawan. Lengkapnya akomodasi dan fasilitas di sekitar Pantai Senggigi membuat pantai ini banyak dikunjungi wisatawan, sekaligus dijadikan sebagai lokasi transit untuk ke Trio Gili (Gili Trawangan, Gili Meno, Gili Air) yang sangat populer di Lombok.

 

2). Malaka, Pemenang, Lombok
Setelah puas menikmati indahnya Pantai Senggigi, kami langsung bergegas, karena harus sampai di desa Sembalun sebelum gelap.
Nah, ketika melewati jalanan di Malaka, kita melihat view yang luar biasa indah. Yaitu perpaduan antara gunung dan laut yang membentuk formasi sangat epic. dan dari sini juga bisa terlihat pulau gili.

 

 

3. Desa Sembalun
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan, akhirnya sampailah kami di desa Sembalun yang berada di Lombok timur, dan di desa inilah kami akan bermalam.
Di blog ane sebelumnya sempat membahas khusus tentang keindahan desa ini https://wawasakura.wordpress.com/2017/11/10/di-suatu-tempat-bernama-sembalun/, dan betapa kami merasa nyaman, speechless serta gagal move on dari tempat ini 🙂

  • Penginapan 
    Di desa ini ada beberapa hotel & penginapan, namun karena sudah sore dan kami sudah kelelahan, jadi kami hanya survey singkat. Dan akhirnya kami menginap di Rudy Hotel dengan view menghadap Gunung Rinjani. Di Hotel ini ada beberapa pilihan kamar, ada yang dorm dan ada yang double bed dengan harga yang bervariasi.

  • Bukit Selong
    Di Sembalun terdapat banyak bukit-bukit cantik yang tidak terlalu tinggi, salah satu alternatif bagi yang tidak bisa mendaki Gunung Rinjani.
    Berbekal informasi dari penduduk sekitar, pagi-pagi sekali kami sudah bergegas kesana.
    Lokasinya tidak jauh dari tempat kami menginap, bisa ditempuh dengan menggunakan motor sekitar 10 menit saja. Ada beberapa anak tangga menuju ke bukit tersebut, setelah itu kami harus trekking sekitar 15 menit untuk sampai di puncak bukit. Dan viewnya dari puncak bukit ini benar-benar menakjubkan masih terdapat kabut tipis bertemu dengan cahaya matahari yang kekungingan.
    Hamparan sawah yang ditanami beras merah terlihat berpetak-petak, hampir sulit dipercaya bahwa apa yang terlihat di mata kami ini nyata 🙂
  • Rumah Adat Desa Beleq
    Desa adat ini terletak pas di lereng Bukit Selong,
    Konon akhir abad ke 14, yaitu pada masa Kerajaan Selaparang Hindu, Gunung Rinjani meletus hebat, sehingga warga yang berdiam di Sembalun diperintahkan Raja Selaparang agar meninggalkan desanya untuk menghindari bencana. Sebagai masyarakat yang patuh kepada pemimpin, penduduk Sembalun berbondong-bondong meninggalkan kampung halaman untuk mengungsi.Ketika kondisi dirasakan sudah aman, kemudian ada tujuh pasang suami isteri yang kembali ke kampung halamannya di Sembalun. Mereka mulai menata kehidupan dan membangun kembali rumah yang telah porak poranda akibat letusan Gunung Rinjani, yang kemudian lokasi pembangunan tujuh rumah itu dinamakan Desa Beleq, yang berarti Desa Besar, atau Desa Induk.

 

3). Pantai Pink
Pantai berpasir putih atau hitam, ah sudah biasa dan pasti sudah sering kita jumpa. Nah, bagaimana dengan pantai yang berpasir pink?
Tepatnya di kabupaten Lombok Timur yang terpencil, ada sebuah pantai dengan keindahan alami nan romantis. Tapi bersiaplah menerima kejutan-kejutan sepanjang perjalanan. Karena sebelum sampai ke tempat ini kita harus menempuh jalanan yang sangat brutal, selain tanjakan dan turunan jalanan menuju Pantai Pink ini melewati jalanan yang rusak, berbatu dan berdebu parah. Maka tak heran jika pantai ini disebut dengan “Pantainya Surga, Jalannya Neraka” :))

010019200_1479788320-Pink_Beach__Indonesia
15079048_1116149098499545_1182222498334618789_n
15094995_10202555582648978_379322525674810877_n

4). Pantai Seger Kuta Lombok/Pantai Kuta Mandalika
Terletak di Desa Sukedane, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah atau sekitar 2 km dari Pantai Kuta Lombok, Pantai Seger merupakan destinasi wisata favorit di Lombok Tengah karena memiliki pemandangan yang sangat cantik. , air lautnya yang biru dan jernih serta gugusan bukit yang ada di sekitar pantai, membuat pantai ini selalu ramai dikunjungi wisatawan.
Pantai ini disebut juga dengan Pantai Mandalika, karena ada cerita Putri Mandalika yang sangat melegenda.

Putri Mandalika adalah seorang putri nan cantik jelita termasyur ke seluruh Pulau Lombok.
Banyak pangeran yang ingin mempersuntingnya, sehingga sang putri melakukan semedi untuk menentukkan pilihannya.
Putri Mandalika memilih menjatuhkan dirinya ke laut dan hilang ditelan ombak untuk menghindari perpecahan dan konflik di Pulau Lombok.
Setiap tahun, masyarakat di Pulau Lombok melaksanakan upacara adat yang berkaitan dengan kisah Putri Mandalika.

16939492_1218565508257903_2928556316710435532_n

“Mungkin perjalanan ini akan membawamu kepada bahaya, kesepian, dan kelelahan. Namun perjalanan ini pula yang mampu membawamu pada keelokan alam.” – Anonym

Tentang Waktu

Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari foto jam dinding yang terpajang di sebuah toko jam tersebut. Aku hanya menikmati berderet jam dinding yang tersusun rapi itu. Mereka berhenti tepat di angka 10.10, mungkin saat itu si pemilik punya sebuah kenangan tepat pada waktu itu atau… mungkin juga si pemilik menyukai angka-angka tersebut. Entahlah… I don’t even know.

Waktu yang hakikat menurut Andrea Hirata dalam buku “Padang Bulan”.

Bagi para pesakitan, waktu adalah musuh yang mereka tipu saban hari dengan harapan. Namun, disana, di balik jeruji yang dingin itu, waktu menjadi paduka raja, tak pernah terkalahkan.

Bagi para politisi dan olahragawan, waktu adalah kesempatan yang singkat, brutal, dan mahal.

Para seniman kadang kala melihat waktu sebagai angin, hantu, bahan kimia, seorang putri, payung, seuntai tasbih, atau sebuah rezim. Salvador Dali telah melihat waktu dapat meleleh.

Bagi para ilmuawan, waktu umpama garis yang ingin mereka lipat dan putar-putar. Atau lorong, yang dapat melemparkan manusia dari masa ke masa, maju atau mundur.

Bagi mereka yang terbaring sakit, tergolek lemah tanpa harapan, waktu mereka panggil tak datang-datang.

Bagi para petani, waktu menjadi tiran. Padanya mereka tunduk dan patuh. Kapan menanam, kapan menyiram, dan kapan memanen adalah titah dari sang waktu yang sombong. Tak bisa diajak berunding. Tak mempang disogok.

Bagiku sendiri waktu masih menjadi misteri yang penuh dengan teka teki. Terkadang aku mengharapkan agar waktu cepat berlalu saja, agar aku bisa mengetahui bagaimana Tuhan membuat skenario untukku. Dan aku juga ingin waktu cepat berlalu… agar tabunganku cepat terkumpul banyak lalu aku akan melarikan diri ke negeri antah berantah, agar aku bisa teriak sekencang-kencangnya tanpa ada orang yang mengenaliku dan aku bebas melakukan apapun yang aku mau.

“It’s not like you know all about today just because you lived yesterday”.
-Jiho (Because this is My First Life)

Di Suatu Tempat Bernama “Sembalun”

Tuhan begitu adil dalam menciptakan sesuatu. Seperti ada kopi yang pahit maka akan ada gula yang manis, dari perpaduan itu akan menciptakan suatu rasa yang luar biasa. Begitu juga dengan alam, Ada pantai yang terik, maka akan ada pegunungan yang sejuk sebagai penyeimbangnya. Mungkin itu yang dimaksud dengan Yin dan Yang yaitu konsep dalam filosofi Tionghoa yang biasanya digunakan untuk mendeskripsikan sifat kekuatan yang saling berhubungan dan berlawanan di dunia ini dan bagaimana mereka saling membangun satu sama lain.

Dalam perjalanan kami ke Lombok tahun lalu, kami menyusuri jalanan di pinggiran laut yang terbentang luas. Hembusan angin laut yang mengandung garam, lembab namun menyejukkan. Hingga lama kelamaan laut pun jauh tertinggal, kami mulai melewati jalanan yang menanjak, memasuki jalanan yang sepi… sayup-sayup suara khas binatang hutan pun terdengar, udara mulai berganti dengan aroma yang menyegarkan paru-paru. Suara kendaraan pun mulai jarang terdengar, hanya sesekali berpapasan dengan kendaraan penduduk setempat yang pulang dari sawah dan ladang mereka dengan sekarung rumput.
Ah, pasti kambing & sapi mereka kegirangan melihat tuannya datang membawa rumput segar, pikirku.

Motor kami pun terus melaju, tidak terlalu kencang, kami ingin menikmati suasana ini. Tatapan-tatapan ramah penduduk sekitar, tawa anak-anak yang sedang bermain, udara sejuk yang perlahan-lahan mengubah lelah kami menjadi senyuman. Maklum perjalanan kami semalam dari Denpasar hingga akhirnya terombang ambing berjam-jam di lautan sukses membuat kami sedikit loyo.

Yosh… Sampailah kita di sini, inilah Desa Sembalun. Surga terpencil di kaki gunung Rinjani.
Sembalun adalah sebuah kecamatan di kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, Indonesia.
Sembalun berada di ketinggian 800 – 1.250 mdpl maka tak heran jika udara disini sejuk.

Desa ini benar-benar seperti surga, dikelilingi dengan pegunungan yang sangat epic, sepanjang mata memandang “Hijau”. Nampak Gunung Rinjani berdiri kokoh menjulang… menembus awan. Kabut tipis membuat suasana semakin syahdu. Karena pada saat kami sampai disana hari sudah cukup sore, lelah kami sepanjang perjalanan berubah menjadi suatu kekaguman terhadap alam yang luar biasa indah.
Kami benar-benar betah berada disini, seperti kampung halaman. Tenang… nyaman… damai… inilah kehidupan pedesaan yang menjadi idaman :).

Sore itu kami menyempatkan diri untuk mencicipi kopi khas Sembalun bersama  dengan salah satu penduduk dan obrolan kami tentang asal usul desa Sembalun ini sangatlah menarik.
Jadi Sembalun ini adalah desa tertua di kaki gunung Rinjani.
SEMBALUN yang berasal dari bahasa jawa kuno yang terdiri dari dua kata yakni kata “SEMBAH” dan “ULUN”. Kata Sembah mengandung makna menyembah, menyerah diri, mematuhi, atau bisa juga dimaknai taat. dan Ulun , dari kata dasar Ulu yang berarti kepala, atas, atasan, atau pemimpin.

Makna lain yang terkandung dari kata sembahulun adalah ” orang sembalun berkewajiban untuk menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai pencipta dan pemelihara alam dan manusia wajib menaati segala ketentuan ketentuan dan kepercayaan yang di anut, setiap orang sembahulun wajib menaati dan mematuhi pemimpin pemimpinnya, bahwa setiap orang sembahulun mempunyai kewajiban untuk selalu taat kepada adat leluhurnya selain taat kepada Yang Maha Esa dan kepada Pemimpinnya “.

Sayangnya kami hanya sebentar berada disana, bermalam di kaki gunung Rinjani dan menyaksikan matahari terbit dari Bukit Selong membuat kami benar-benar takjub akan ciptaan Tuhan yang sangat mengagumkan, ibarat lukisan hidup begitulah mata kami menyaksikan segala keindahan alam yang Tuhan suguhkan kepada kami.

Semoga dilain kesempatan kami dapat berkunjung kesana lagi 🙂


 

Bila kamu belum pernah terdampar di lembah yang rimbun, maka kamu belum pernah tahu semegah apa bumi yang kamu injak ini. 

 

Traveling VS Liburan

Sekarang ini liburan menjadi saat-saat yang dinantikan oleh semua orang, bukan cuma untuk melepas penat dari rutinitas & menjelajahi tempat-tempat baru saja, namun juga sebagai life style bahkan menjadi suatu kebutuhan yang wajib banget dilakukan.

Nah, ternyata banyak dari kita yang salah kaprah  mengartikan liburan dan traveling ke dalam arti yang sama. Karena mereka menggunakan waktu liburannya untuk traveling. Meski sama-sama bepergian, keduanya memiliki konsep yang berbeda. Berikut beberapa perbedaanya  :

  1. Beda Tujuan
    Hal utama yang membedakan antara traveling dan liburan adalah tujuan. Liburan murni bertujuan untuk bersenang-senang sedangkan traveling biasanya lebih untuk mencari pengalaman. Orang yang sedang liburan biasanya mengunjungi tempat-tempat yang sudah umum dan yang sedang hits. Agenda mereka pun biasanya sudah tersusun dengan sangat rapi dan terencana. Sedangkan traveler umumnya lebih menyukai tempat-tempat yang jarang dikunjungi. Perjalanan mereka biasanya juga tidak terlalu terncana dan lebih spontan. Seorang traveler sangat menyukai kejutan-kejutan dalam perjalanan… misalnya tersesat ketika sedang dalam perjalanan, bisa tidur di mana saja, dan menikmati interaksinya dengan orang-orang serta penduduk sekitar yang ditemuinya. Seorang traveler biasanya juga memiliki tujuan khusus dalam sebuah perjalanan. Bisa saja ia melakukan perjalanan karena ingin mencari inspirasi atau untuk menemukan jati diri.
    Poinnya, traveling adalah tentang proses perjalanan itu sendiri, bukan tujuan.

    Traveling dengan menggunakan motor, why not ?

     

    Ternyata Pantai Kuta bukan cuma milik Bali saja

     

    Perpaduan antara pegunungan & lautan itu keindahan yang tak terbantahkan

     

  2. Beda Akomodasi
    Karena tujuannya adalah untuk bersenang-senang, maka seseorang yang sedang liburan juga tidak mau repot dalam hal akomodasi. Biasanya mereka akan lebih memilih menggunakan jasa travel agent untuk mengurus akomodasi serta itinerary perjalananya. Untuk penginapan, Hotel berbintang atau villa mewah menjadi pilihannya.  Sedangkan seorang traveler tak terlalu memusingkan soal akomodasi perjalanan. Yang terpenting adalah ia bisa sampai ke tempat tujuan, tak peduli naik apa. Soal penginapan pun mereka lebih memilih penginapan yang low-budget.
    Sekali lagi, seorang traveler lebih mencari pengalaman daripada kesenangan.

    Serunya traveling dengan menggunakan motor

     

    Kapal fery ini membawa kita terombang-ambing di lautan selama berjam-jam

     

    Mau tidur di tenda/di hotel tidak jadi masalah

     

    Penginapan di kaki gunung Rinjani


  3. Liburan lebih mementingkan oleh-oleh. Sedangkan traveling tidak.
    Seseorang yang sedang liburan akan mengeluarkan lebih banyak uang. Bukan cuma untuk akomodasi tapi juga keperluan lain, termasuk oleh-oleh. Bagi seseorang yang sedang liburan, oleh-oleh adalah hal yang wajib. Sedangkan Traveler tidak ingin rempong dengan membawa banyak bawaan. Selain karena space backpack atau box di motornya terbatas, juga karena ruang geraknya terbatas hanya karena tambahan bawaan.
    Seorang Traveler akan membawa sesuatu yang unik yang nantinya akan dijadikan sebagai suatu kenangan ketika ia merindukan tempat tersebut.

    Beras merah & kopi Sembalun, terasi, dan pasir pantai.

     

    Pasir dari pantai Kuta & pantai pink

     

  4. Seorang traveler punya caranya sendiri untuk mengabadikan kisah perjalanan.
    Ketika mengunjungi tempat-tempat yang bagus, cekrek… langsung upload ke sosmed, itulah kegiatan umum yang dilakukan oleh mereka yang sedang liburan. Foto-foto adalah cara mereka mengabadikan momen jalan-jalan. Sedangkan seorang traveler selalu punya caranya sendiri untuk mengabaikan penglamannya selama traveling. Selain melalui foto, menulis cerita perjalanan adalah salah satu hal yang biasanya dilakukan oleh seorang traveler untuk membuat kisah mereka abadi. Bahkan tak jarang, dari kegiatan menulis perjalanan tersebut ia mendapatkan penghasilan tambahan. Bahkan ada yang menjadikannya sebagai pekerjaan utama (travel writer).

    Dengerin Bapaknya curhat, dari pacuan kuda… Hingga masalah rumah tangganya.

     

    Perlu perjuangan yang berat untuk sampai di Pantai ini

     

    Legenda Putri Mandalika

     

    Membicarakan tentang kopi dengan seorang petani Desa Sembalun




    “Tidak peduli ke bagian Indonesia mana kamu melangkah, kamu akan tahu bahwa setiap sudut Indonesia adalah rumah.”

PULANG : Tere Liye

 

Sebut saja dia Bujang atau “Si Babi Hutan” tidak ada yang tau nama sebenarnya, dan jika kamu membisikkan namanya maka gemetarlah mereka, dan bahkan seorang presidenpun takluk didepanya.

Tere Liye sukses membuat si Bujang sebagai pemeran utama yang mengagumkan, bikin ane jatuh cinta dari pertama kali membacanya. Dalam bayangan ane sosok si Bujang ini mirip dengan sosok Ji Chang Wook dalam drama korea (Belum bisa move on dari Drama the K2 hehehe :D) yang cerdas, berwawasan luas, jago berkelahi, menembak, kuat & tak terkalahkan.

Remaja 15 tahun dari hutan barisan Sumatera yang pertama kali datang ke kota tanpa menggunakan alas kaki, dan penuh luka. Siapa sangka dia punya segudang kelebihan yang mengagumkan, bahkan bisa menyelamatkan Tauke besar pemimpin gangster top di Ibu Kota dan penguasa shadow economy yang disegani seluruh penjuru negeri ini hingga manacanegara.

Di awal bab belum apa-apa cerita uda panas, menegangkan dan bikin penasaran.
Bayangkan saja buku setebal ini mampu ane lahap dalam 5 hari saja, biasanya mah bisa berbulan-bulan karena tidak sempat. Demi buku ini ane rela begadang, sampai gak bisa tidur gara-gara kepikiran si Bujang… Oh bang Bujang…

Bujang digambarkan sebagai sosok yang tidak punya rasa takut sama sekali, ia gagah berani menghadapi apapun.
Sampai pada akhirnya satu persatu pondasi kekuatanya terkelupas, dan dia jatuh pada titik yang membawa dia pulang kembali kepada Tuhan.

Tokoh-tokoh yang tak kalah penting dalam novel ini adalah Tauke Besar adalah pemimpin keluarga tong yang menguasai Shadow Economy, Kopong si pemimpin tukang pukul, Guru Bushi mantan ninja yang mengajari Bujang menggunakan katana dan melempar shuriken, Sangola pembunuh bayaran yang mengajari si Bujang menembak, kisah cinta Mamak & Bapak si Bujang yang sangat dramatis, dan yang tak kalah penting adalah Tuanku Imam yang memberikan pencerahan kepada Bujang untuk kembali pulang kepada Tuhan.

Berikut kutipan-kutipan yang ane suka dari novel ini….

Aku hidup bukan untuk membahagiakan orang lain, apalagi menghabiskan waktu untuk mendengar komentar mereka.

Berjanjilah agar menjaga perutmu dari semua makan yang haram & kotor, agar besok lusa, jika hitam seluruh hidupmu, hitam seluruh hatimu, kau tetap punya satu titik yang putih, dan semoga itu berguna. Memanggilmu pulang.

Bahwa kesetiaan terbaik adalah pada prinsip-prinsip hidup, bukan pada yang lain.

Bersabarlah, maka gunung-gunung akan luruh dengan sendirinya. Lautan akan kering. Biarkan waktu menghabisi semuanya.

I against my brother, my brother and I against my cousins, then my cousins and I against strangers.
– Pepatah suku Bedouin.

Seluruh masa lalu, hari ini, dan masa depan akan selalu berkelindan, kait mengait. Esok lusa kau akan lebih memahaminya.

Kau tahu, hidup ini sebenarnya perjalanan panjang, yang setiap harinya disaksikan oleh matahari.

Peluklah semuanya, peluk erat-erat. Dekap seluruhkebencian itu. Hanya itu cara agar hatimu damai.

Ketauhilah, hidup ini tidak pernah tentang mengalahkan siapapun. Hidup ini hanya tentang kedamaian dalam hatimu. Saat kau mampu berdamai, maka saat itulah kau telah memenangkan seluruh pertempuran.

Sejatinya, dalam hidup ini kita tidak pernah berusaha mengalahkan orang lain, dan itu sama sekali tidak perlu. Kita cukup mengalahkan diri sendiri.

Sungguh, sejauh apapun kehidupan menyesatkan, segelap apapun hitamnya jalan yang kutempuh, Tuhan selalu memanggil kami untuk pulang.

 

 

 

 

Rindu : Tere Liye ( 5 Kisah Dalam Perjalanan Panjang Kerinduan )

file_000-1

Judul : Rindu
Penulis: Tere Liye
Tebal: 544 halaman (51 bab)
Penerbit: Republika, 2014
Tema: Cinta, Keluarga, Perjuangan.
Setting: Tahun 1938

Novel ini bercerita tentang perjalanan rombongan haji yang panjang  selama berbulan – bulan dengan sebuah kapal uap besar bernama Blitar Holland yang settingnya ketika jaman penjajahan Belanda 1938.

Ane selalu menyukai Novel yang berkisah tentang perjalanan, karena pasti ada kisah seru dan jadi tahu tentang tempat-tempat baru tersebut. Kapten Phillip sukses membawa ane berlayar dengan berbagai cerita serta masalah-masalah yang dialami masing-masing tokohnya.

Tere Liye membuat tokoh-tokoh di buku ini begitu berkarakter dan sangat dekat dengan pembaca. Ada Bonda Upe seorang wanita Tionghoa yang cantik dan mempunyai masa lalu yang pahit, Saudagar kaya Daeng Andipati yang terlihat bahagia namun masih belum bisa memaafkan diri sendiri dari masa lalunya, pasangan super romantis Mbah Kakung & Mbah Putri, dan si kecil menggemaskan Anna & Elsa.
Ane sempat geli sendiri mendengar nama itu seperti nama tokoh film Frozen (memangnya di jaman itu sudah ada filmnya?) Entahlah… I don’t even know.
Dalam perjalanan besar ini masing-masing tokoh mempunyai pertanyaan-pertanyaan besar dalam hidupnya yang akan dijawab oleh seorang ulama masyhur dari Gowa yaitu Gurutta (Guru Kita) Ahmad Karaeng,
namun dirinya sendiri tidak mampu menjawab pertanyaan besar dalam hidupnya, dan menganggapnya sebagai orang yang paling munafik. Siapa sangka pertanyaan terbesar di hidupnya tersebut mampu di jawab orang seperti Ambo Uleng si kelasi pendiam yang dangkal ilmu.

Pada bab-bab awal lebih menceritakan tentang karakter dan cerita masing-masing tokoh,  terasa agak membosankan karena hanya menceritakan kegiatan mereka berulang-berulang seperti makan, sholat, sekolah, mengaji dsb. Yup, ane juga sadar sih karena setting cerita ini adalah di atas Kapal dan terombang ambing di laut jadi tidak jauh dari kegiatan-kegiatan tersebut hanya itulah yang bisa mereka lakukan.
Ditengah-tengah Bab muncullah beberapa kejadian seru yang membuat ane semangat dan larut dalam novel tersebut, seperti ketika meledaknya bom di Pasar Turi Surabaya yang membuat Anna terjebak dalam kerumunan orang dan terpisah dari ayahnya yaitu Daeng Andipati, Meninggalnya Mbah Putri yang meninggalkan kesedihan mendalam untuk Mbah Kakung, Rusaknya mesin kapal yang hampir membuat mereka terkatung-katung di lautan luas Samudra Hindia, dan puncaknya adalah ketika kapal Blitar Holland dibajak oleh Perompak Somalia yang sangat kejam.

Ane sangat mengapresiasi Tere Liye sebagai penulis yang mampu membuat Novel se emejing ini. Banyak pelajaran berharga yang dapat kita petik, mulai dari pengetahuan umum hingga kondisi jaman penjajahan Belanda saat itu yang ternyata tidak seseram yang Ane pikirkan selama ini karena hanya belajar dari buku sejarah ketika sekolah dulu, ternyata tidak semua orang Belanda itu jahat dan kasar, seperti Kapten Phillip, Chef Lars, & Ruben si Boatswain adalah salah satu orang Belanda yang sangat baik.
Novel ini sebenarnya adalah Novel Religi, namun tidak sereligi AAC dan KCB. Penuh dengan pengajaran agama & kebesaran Allah SWT. Selain itu yang seru dari membaca Novel ini adalah ane jadi gak tahan ingin mengunjungi beberapa tempat seperti Batavia, Palembang, Aceh, Kolombo, dan terutama Jeddah Arab Saudi 🙂 (Insyaallah… ).